Limabelas tahun BCS
PSS MAU DIBAWA KEMANA?
Sempat menutup akhir tahun 2025 dengan memuaskan, mencetak 4 gol tanpa balas melawan Persipal, namun sayang langsung kembali anyang anyangen di awal tahun. Sudah jengkel kita melihat klub kebanggaan dikerjai wasit. Ditambah lagi jajaran manajemen juga menerapkan prinsip "nerimo ing pandum" karena tidak terlihat upaya untuk protes keras terhadap kinerja wasit. Manutan, tidak ada ghirah untuk melawan.
Sisi lain permainan PSS mengalami penurunan ketika kehilangan beberapa pilar utama. Umpan croshing yang waton sing penting bal e mumbul arah kotak pinalti, kui yo nek ora kebablasen. Tanpa arah tidak terukur. Monoton, kurang kreatif. Sedari awal kita butuh sosok yang kreatif di lini tengah yang bisa mendobrak pertahanan lawan lewat kombinasi sisi sayap maupun sisi tengah. Tapi buntu!
Captain dan manajemen kita juga melempem, yo dikandani merangkap jabatan kui ora apik maruk tenan. Satu sisi jajaran eksekutif klub seperti ora niat mengelola tim ini, mengambil pemain aktif untuk dijadikan manajemen. Bukan pertama kali loh, masih ingat Leo? Kapasitas e opo dadeke manajemen? Astagfirullah.
Kita pernah bermimpi menuju Liga Champions Asia, berbagai dobrakan manajemen dilakukan. Namun entah mengapa setelah beberapa musim di liga teratas klub ini hilang arah. Delapan tuntutan yang dulu pernah dilayangkan BCS juga entah bagaimana progressnya. Target musim ini adalah naik kasta kembali, mungkin mereka lupa. Mari kita ingatkan kembali. Ingatkan juga tata kelola mereka harus di evaluasi dan diperbaiki. Klub besar Kabupaten ini tidak layak diurus sak penak e dewe. Dengan antusias fans yang begitu besar, seharusnya klub ini bisa diurus dengan sebaik-baiknya.
Sisi lain permainan PSS mengalami penurunan ketika kehilangan beberapa pilar utama. Umpan croshing yang waton sing penting bal e mumbul arah kotak pinalti, kui yo nek ora kebablasen. Tanpa arah tidak terukur. Monoton, kurang kreatif. Sedari awal kita butuh sosok yang kreatif di lini tengah yang bisa mendobrak pertahanan lawan lewat kombinasi sisi sayap maupun sisi tengah. Tapi buntu!
Captain dan manajemen kita juga melempem, yo dikandani merangkap jabatan kui ora apik maruk tenan. Satu sisi jajaran eksekutif klub seperti ora niat mengelola tim ini, mengambil pemain aktif untuk dijadikan manajemen. Bukan pertama kali loh, masih ingat Leo? Kapasitas e opo dadeke manajemen? Astagfirullah.
Kita pernah bermimpi menuju Liga Champions Asia, berbagai dobrakan manajemen dilakukan. Namun entah mengapa setelah beberapa musim di liga teratas klub ini hilang arah. Delapan tuntutan yang dulu pernah dilayangkan BCS juga entah bagaimana progressnya. Target musim ini adalah naik kasta kembali, mungkin mereka lupa. Mari kita ingatkan kembali. Ingatkan juga tata kelola mereka harus di evaluasi dan diperbaiki. Klub besar Kabupaten ini tidak layak diurus sak penak e dewe. Dengan antusias fans yang begitu besar, seharusnya klub ini bisa diurus dengan sebaik-baiknya.
Tinggalkan kebiasaan jahiliah itu!
Muncul kembali imbuh-imbuhan dalam chants sakral kita. Diperparah imbuhan bernada misuh-misuh yang wah jadi teringat masa-masa mitra antv, ligina tetotteet zaman baheula! Ayo elegan teman-teman, tanpa sadar sering kepangan omongan e dewe itu tidak baik loh.
Ada juga manusia-manusia pede abizz berkeliaran di setiap sudut stadion meneriakan "temp*k tem*ek". Kita itu bagaimana?!. Sudah susah payah komunitas 11.5 melakukan gerakan stadion ramah terhadap disabilitas sekaligus mengkampanyekan bahwa tribun ramah semua kalangan, PSS itu milik semua fansnya tanpa terkecuali, tapi kelakuan kita jauh dari yang diharapkan. Primitif!.
Banyak anak-anak yang akan menjadi tonggak estafet selanjutnya terkontaminasi ulah sebagian dari kita. Tidak sedikit fans PSS bersama keluarga yang ingin menyaksikan kebanggaan berlaga terganggu dan mungkin ragu mengajak keluarganya datang ke stadion kembali. Ohya yang kita lakukan itu bukannya termasuk sexisme ya? Aww...
Apalagi?. Telat melbu stadion. Itu dia. Kalau itu sepertinya memang realita kehidupan nerimo ing pandhum di tanah monarki ini. Terlalu slowmotion. Bahkan match melawan Persela masih banyak yang berjejer di pinggir jalan menunggu rombongannya padahal kick of sudah berjalan 10 menitan. Pintu masuk stadion sisi selatan juga masih penuh sesak di saat pemain kita seharusnya sudah membutuhkan dukungan kita di lapangan. Mungkin baru pulang kerja, mungkin. Tapi kan iki dino Ahad. Wkwkwkwk.
Alhasil tribun selatan terpantau mulai penuh menjelang turun minum. Kenapa bisa begitu? Budaya telat masuk tribun adalah kebiasaan lama yang masih terjadi. Coba bawa ini ke forum intern komunitas masing-masing.
Satu hal lagi, bernyanyilah mengikuti komando dari Capo. Ikutilah iramanya, ikuti irama ketukan dari teman teman perkusi. Terlebih saat anthem, coba dengarkan musik yang diputar di stadion. Sepertinya kita tergesa-gesa dalam melantunkan anthem after match. Bisa dibantu ketukan tipis dari kawan-kawan perkusi agar suara kita bisa seirama.
Itu dulu ya, tidak ada yang sempurna. Yang wajib hanya Sembahyang lima waktu. Terus memperbaiki dan mengedukasi diri kita sendiri. HIDOPPP.
APA YANG SALAH?
"Akun berdasi". Kalimat itu dulu sering muncul untuk mengingatkan sesama kita agar menunggu segala informasi dari akun official (PSS/BCS) karena itulah informasi yang valid fix "wes dipasteke" daripada terombang ambing dalam gosip tipis yang menimbulkan banyak asumsi. Namun bagaimana jika akun official kurang aktif dalam memberikan informasi yang sangat ditunggu-tunggu?. Ditambah akun-akun pribadi turut serta menimpali. Bukannya memberikan kepastian dan menenangkan riuh linimasa namun kadangkala menjadikan linimasa semakin bias informasi.
"kemana harus percaya?, official belum aktif, atau ikut opini akun pribadi a, b, atau c". Seperti "Vita Subiyakti" versi internship, tapi lebih dari satu. Benar, yang ada tambah bingung, asumsi semakin banyak, bola liar mengelinding bak bola salju semakin membesar. Kita perlu ingat, BCS tidak hanya komunitas kita saja, tidak hanya yang kita kenal saja. BCS adalah semua yang mendukung PSS dari manapun mereka berasal.
Menuntut klub itu wajib, tapi kita sebagai suporter jangan lupa juga untuk melihat kedalam. Intropeksi untuk melihat apa yang perlu di evaluasi kemudian diperbaiki. Seringkali muncul asumsi liar di media sosial itu sebab akibat. Pertanyaannya kenapa bisa muncul asumsi tersebut? Apa sebabnya?. Penyebab itulah yang seharusnya di lihat untuk diperbaiki bersama. Komunikasi - distribusi informasi.
Tentu saja tidak dibenarkan mereka yang berasumsi dengan menuduh a,b,c tanpa bukti. Apalagi menggunakan akun anonim, ya semoga saja mereka menggunakan akun anonim bukan karena "takut" bersuara. Jangan sampai ada ketakutan dalam bersuara, terlebih itu adalah bukti kepedulian kepada wadah bersama. Terakhir, dinamika pasti ada dan kita perlu terus belajar untuk menyikapinya. Mari terus belajar mendewasa bersama, siapapun kalian tua muda atau kalian yang sedang berada dalam fase di panggil "isih bayi", haha mereka lupa kalau semua pernah berada di fase tersebut. Kalianlah masa depan wadah ini. Bertumbuhlah!
Tulisan sebelumnya adalah tanggapan dari ontran-ontran linimasa akhir akhir ini, walaupun juga sebelum-sebelumnya sudah sering terjadi. Mari terus menerus untuk beregenerasi tanpa lupa mengedukasi. Banyak hal yang harus kita evaluasi untuk diperbaiki bersama. Akui saja ada yang kurang, lalu musyawarahkan dalam Forum bagaimana solusinya. Sibukkan dalam mencari apa yang keliru bukan siapa yang keliru atau salah. Ora muntir!

Comments
Post a Comment