Terus memperbaiki diri

Saya mempunyai cara tersendiri untuk menikmati hidup saya sekarang tanpa melupakan bahwa diri saya juga jauh tertinggal bukan oleh orang lain tapi oleh versi terbaik dari diri saya sendiri. 

Jangan tanya bagaimana bisa saya mengetahui versi terbaik dari diri sendiri, yo saya ndak tau kok nanya saya. 

Angan-angan?, bisa jadi. Tapi saya juga berusaha mengukurnya agar realistis. Contoh, seharusnya saat ini saya lancar bahasa inggris, namun karena belum lancar bahkan masih terbata-bata maka saat ini saya jauh tertinggal dari semestinya. Itu adalah salah satu indikator versi terbaik saya. Karena lancar berbahasa inggris bisa saya latih dengan segala sumber yang saya punyai. Betul, saya mencoba mencari tahu versi terbaik saya dengan mengandaikan jika segala sumber daya yang saya punya dan dimanfaatkan dengan maksimal maka saya bisa melakukan apa dan apa. 

Maka pertanyaan beralih, apakah ada niat komitmen, skala prioritas, kemauan, dan terakhir daya juang. 

Masih ada indikator-indikator lain dari versi terbaik saya yang coba saya kejar. Melihat orang lain masih juga saya lakukan, sebagai pembanding tapi bukan untuk dibanding-bandingkan. Melainkan untuk gambaran, sebagai feedback, sebagai refrensi variabel kepada diri saya. 

Selain kemampuan berbahasa, kemampuan mengelola keuangan juga sedang saya latih. Mencatat semua aliran keluar masuk, memilah kantong-kantong sesuai kebutuhan, dan berbagai perencanaan kedepan. Tricky, uangnya memang masih sedikit, namun dengan mengaturnya kehidupan sehari-hari terasa lebih lega dan terasa safety. Mengingat ini, masa kuliah saya dahulu benar-benar pemborosan, sedih sekali. 

Banyak indikator yang coba saya latih terus menerus. Contoh terakhir adalah kondisi (kesehatan) badan. Semua indikator yang saya perjuangkan tidak ada gunanya jika indikator kesehatan badan tidak baik. Semua percuma. Maka menjaga kesehatan adalah kewajiban mutlak untuk investasi kedepan. Perlu juga untuk diingat bahwa kesehatan tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri namun juga untuk orang-orang sekitar kita. Ya bayangkan saja jika kita sakit, siapa saja yang kita repotkan karena kondisi yang kita alami. 

Fitrahnya manusia akan terus memperbaiki dirinya menuju versi terbaiknya. Tawakal juga jangan lupa ya, dibarengi dengan ikhtiar semaksimal mungkin. 



 

Comments

Popular Posts