Laki laki tidak bercerita (lagi)
Sebagai laki-laki, saya sering mendengar bahwasanya kami kaum Adam ini tidak boleh bercerita, tidak boleh mengeluh, nangis juga tidak diperbolehkan. Tidak elok dalam pandangan masyarakat pada umumnya. Tentu ini bukan aturan tertulis, tapi kontruksi dari masa ke masa membentuk pola sedemikian rupa untuk laki-laki agar tetap tegar, tetap kuat, tidak elok memperlihatkan kelemahannya. Yang berarti juga jika kita kaum laki-laki melakukan sebaliknya maka muncul rasa "lemah" dan bersalah pada diri sendiri. Menyesal kenapa sudah bercerita. Bahkan baru niat saja sudah muncul rasa lemah itu.
Tentu kalian tahu kalau saya termasuk yang tidak mengamini pola itu. Sadar betul kalau kita, laki-laki juga seorang manusia. Sewajarnya ia punya perasaan yang seringkali membuncah dan membutuhkan sarana untuk melepaskannya. Pandangan masyarakat terhadap laki-laki untuk selalu kuat dan tidak boleh memperlihatkan "sisi lemahnya" memang sudah mengakar di masyarakat kita. Alhasil jika kita memiliki pandangan sebaliknya, seakan-akan kita melawan arus dan merasa aneh sendiri.
Bercerita dengan kawan-kawan dan menulis adalah cara saya untuk melepaskan bising yang ada di kepala. Alih-alih saya bercerita masalah saya, dengan menulis atau ngobrol adalah cara saya melepaskan kebisingan yang ada di kepala. "Orang yang terbiasa membaca dan menulis dengan sendirinya akan menyerap banyak informasi, ia tidak hanya melihat peristiwa atau fenomena yang ada tapi juga memikirkannya di kepala. Ada saja uneg-uneg dikepala".
Parahnya semua divalidasi dengan mendapatkan respon yang kurang mengenakkan. Sudah dianggap lemah dengan bercerita, eh ceritanya direspon dengan negatif pula. Serba salah, pada akhirnya laki-laki akan memilih memendam semuanya. Tapi wait, dimana dia bercerita?. Nah,
Teman, sah-sah saja kalian bercerita. Tidak apa-apa juga untuk berkeluh kesah. Kamu juga manusia, walaupun terlahir sebagai seorang pria. Tapi saran saja, kita harus lebih cermat untuk bercerita diwaktu dan ditempat yang tepat. Tidak semua bisa kita jadikan tempat bercerita, tidak semua bisa kita jadikan waktu untuk bercerita. Terlebih cerita ini adalah cerita pribadimu teman, yang mungkin juga curhatan keluh kesah. Pertama jelas jangan curhat masalah pribadimu di sosial media, dalam hal ini adalah "story". Kesalahan fatal yang sering dilakukan banyak orang, entah laki-laki bahkan perempuan. Walaupun saat ini sering terlihat menggunakan anonim untuk melampiaskan semuanya.
Break lama setelah sidang, padahal dipikiran penuh dengan gemuruh uneg-uneg yang seharusnya - direncana buat saya tumpahkan di blog. Sayang, entah karena terlalu banyak mikir malah ngga jadi posting tulisan baru. Semoga kedepan lebih baik lagi.
Comments
Post a Comment