Bersua, berbagi kabar, berbagi rasa.
Kemudian bukber kedua saya bersama seorang senior kuliah yang masih ada di Yujo. Awalnya saya kira dia udah balik, ternyata belum. Ini termasuk ring satu juga, walaupun kalimat "ternyata kita ngga sedeket itu" keluar beberapa kali wkwk. Contohnya kejadian terakhir ketika saya ditanyai adik tingkat saya soal nama lengkap dia dan ternyata saya ngga tau nama lengkapnya, wkkw the one and only, Mbapeg!.
Lokasi bukber kali ini membuat saya agak effort dalam menentukan outfit (sebenarnya dalam tekanan adik-adik cewek saya sih). Karena jujur setelah sekian lama tidak makan mode restoran beginian. Taulah feelnya untuk melakukan sesuatu yang itu pertama kali di lakuin. Tapi lucunya kita salah tempat! Haha!. Jadi satu tempat itu ada dua konsep resto sama cafe. Kita malah pesen di Cafenya wkwk. Yoweslah.
Tetep exited, karena bagaimanapun ketemu senior saya satu ini jarang dan susah. Walaupun sama-sama di Yujo, tapi beliau eneh sibuk sekali. Ketemu terakhir pun setelah moment wisuda saya tahun lalu, merayakan kecil-kecilan. Dia ini kalau ketemu pun ketika ada urgent, entah bensin habis dijalan, pindahan kost, lampu dapur mati, beli obat, dll. Pada akhirnya saya menyadari pola ini "Mbapeg kalau chat, pasti ada hal urgent" haha.
Pertemuan kemarin saya niatkan untuk mendengarkan dan mengorek segala informasi yang belum saya ketahui dari dia dan teman-teman lainnya. Ngerti ga, saya baru ngeh kalau ternyata saya tidak banyak mengetahui informasi tentang teman-teman saya. Naasnya juga saya merasa paling banyak cerita ketimbang mendengarkan pada masa masa ngopi dulu. Terjadilah moment,"nah kan itu aku baru tahu" beberapa kali. Walaupun mbapeg akan menjawab kalau sebenarnya kita semua cerita cuma akunya aja yang ga ngeh. Tambah parah lagi malah wkwk. Tapi tenan, mereka jarang sekali bercerita, makane aku dikit informasi tentang mereka.
Obrolannya juga tak jauh-jauh soal kehidupan pribadi masing-masing, entah pekerjaan, asmara, planning kedepan, dan masak sih dia tiap minggu 5x jalan cepet kurleb 3km. Ngga mashok blas dibenak saya. Saya berprasangka baik kalau dia lebih banyak jalan secukupnya kemudian jajan dan naik ojol balik kost.
•
Mereka semua adalah salah satu orang-orang terpenting dalam hidup saya. Jika bang Radit baru menyadari bahwa kehidupan mulai berjalan mundur saat dia usia 40, maka saya sudah beberapa tahun ini menyadarinya. Entah kapan moment terakhir pertemuan itu akan datang. Setidaknya dalam menghitung mundur waktu yang tersisa ini, saya akan mengisinya dengan lebih memperbanyak memories bersama orang-orang terdekat.
merawat yang ada, selagi masih bisa.


Comments
Post a Comment