Bersua, berbagi kabar, berbagi rasa.


Ramadan kali ini sudah dua kali saya berbuka diluar. Mau disebut bukber tapi kok cuma seuprit orangnya wkwk. Tapi okelah tetep buka bareng. Bukber pertama bersama kawan sekolah (MTs). Realisasinya kita hanya bertiga, soalnya yo ndadak dan emang judulnya "bukber buat mbahas bukber". Walaupun aslinya pengen ketemu buat ngobrol aja. Ohya salah satu rezeki yang saya temukan di fase mendewasa ini yaitu ketika ada waktu luang untuk bersua bersama orang-orang terdekat. Apalagi salah satu teman saya satu ini, Anwar baru akan pulang Yujo ketika weekend, maklum perantauan. Akhirnya jika memang bisa bertemu, ya kenapa tidak. Berceritalah kita, sesekali menceritakan yang sudah berulang kali diceritakan dan tidak lupa memperbarui update kabar masing-masing. Obrolan kami tidak jauh-jauh dari soal pekerjaan, soal cita-cinta termasuk meniqa, dan tentu saja tentang kesehatan. Bicara tentang pekerjaan, saya sedang memasuki era baru, pertemuan saat-saat ini saya manfaatkan sekalian untuk announcement ke mereka bagaimana update setelah kelulusan saya akhir tahun kemarin. Jika pada umumnya membicarakan pekerjaan katanya dihindari karena dinilai memamerkan pencapaian. Menurut saya itu malah salah satu kabar yang memang harus di keluarkan. Bukankah pencapain itu juga termasuk hal baru dan bisa dilihat sebagai kebanggan dalam fase kehidupan, terlebih kita sebagai temannya tentu ikut bahagia bukan atas pencapaian yang diperoleh teman kita. Yang mengasyikan ketika berbincang tentang pekerjaan masing-masing, kita bisa berbagi experience dan tentu keluh kesah kerjaan yang dibalut dengan tawa. Untuk soal asmara, kedua teman saya ini sebenernya sudah cukup siap untuk meniqa, sayangnya ada aja lucunya dalam kisah asmara mereka wkwk. Ojo takok aku kepie bab kui, seh suwi. 


Kemudian bukber kedua saya bersama seorang senior kuliah yang masih ada di Yujo. Awalnya saya kira dia udah balik, ternyata belum. Ini termasuk ring satu juga, walaupun kalimat "ternyata kita ngga sedeket itu" keluar beberapa kali wkwk. Contohnya kejadian terakhir ketika saya ditanyai adik tingkat saya soal nama lengkap dia dan ternyata saya ngga tau nama lengkapnya, wkkw the one and only, Mbapeg!. 

Lokasi bukber kali ini membuat saya agak effort dalam menentukan outfit (sebenarnya dalam tekanan adik-adik cewek saya sih). Karena jujur setelah sekian lama tidak makan mode restoran beginian. Taulah feelnya untuk melakukan sesuatu yang itu pertama kali di lakuin. Tapi lucunya kita salah tempat! Haha!. Jadi satu tempat itu ada dua konsep resto sama cafe. Kita malah pesen di Cafenya wkwk. Yoweslah. 

Tetep exited, karena bagaimanapun ketemu senior saya satu ini jarang dan susah. Walaupun sama-sama di Yujo, tapi beliau eneh sibuk sekali. Ketemu terakhir pun setelah moment wisuda saya tahun lalu, merayakan kecil-kecilan. Dia ini kalau ketemu pun ketika ada urgent, entah bensin habis dijalan, pindahan kost, lampu dapur mati, beli obat, dll. Pada akhirnya saya menyadari pola ini "Mbapeg kalau chat, pasti ada hal urgent" haha. 

Pertemuan kemarin saya niatkan untuk mendengarkan dan mengorek segala informasi yang belum saya ketahui dari dia dan teman-teman lainnya. Ngerti ga, saya baru ngeh kalau ternyata saya tidak banyak mengetahui informasi tentang teman-teman saya. Naasnya juga saya merasa paling banyak cerita ketimbang mendengarkan pada masa masa ngopi dulu. Terjadilah moment,"nah kan itu aku baru tahu" beberapa kali. Walaupun mbapeg akan menjawab kalau sebenarnya kita semua cerita cuma akunya aja yang ga ngeh. Tambah parah lagi malah wkwk. Tapi tenan, mereka jarang sekali bercerita, makane aku dikit informasi tentang mereka. 

Obrolannya juga tak jauh-jauh soal kehidupan pribadi masing-masing, entah pekerjaan, asmara, planning kedepan, dan masak sih dia tiap minggu 5x jalan cepet kurleb 3km. Ngga mashok blas dibenak saya. Saya berprasangka baik kalau dia lebih banyak jalan secukupnya kemudian jajan dan naik ojol balik kost. 
Mereka semua adalah salah satu orang-orang terpenting dalam hidup saya. Jika bang Radit baru menyadari bahwa kehidupan mulai berjalan mundur saat dia usia 40, maka saya sudah beberapa tahun ini menyadarinya. Entah kapan moment terakhir pertemuan itu akan datang. Setidaknya dalam menghitung mundur waktu yang tersisa ini, saya akan mengisinya dengan lebih memperbanyak memories bersama orang-orang terdekat. 

merawat yang ada, selagi masih bisa. 

Comments

Popular Posts