sejenak

Sudah lama tidak berpergian jauh bersama
Tiba - tiba aku mengajaknya pergi. Ibu setuju. Diajaknya bapak, walau aku tahu, itu hanya permintaan izin dari ibu kepada bapak. Karena bapak memang tidak ingin ikut dengan berbagai alasanya. 
Akhirnya hanya bersama ibu, berdua berkunjung kerumah saudara. 
Disebuah desa, di ujung atas sana. 

Ibu, akhirnya aku membawamu pergi jauh. 
Mencoba memahami, aku tahu ibu penat. 
Aku tahu ibu lelah, 
Ingin pergi jauh, sesaat merebahkan fikiran yang setia membebani. Dirimu pernah berterus terang, bahwasanya semua itu tak bisa engkau simpan sendiri. Aku tahu, yang akan diceritakan tentu sama. Tak bosanya, diulang-ulangnya cerita itu. Mungkin dengan cara itu engkau merasa lebih baik. 

Namun bagiku, cerita itu sudah aku lupakan. Tidak aku hilangkan cerita itu, aku hanya mencoba tidak mengingatnya, hanya mencoba cerita itu tak lagi aku pikirkan. Maaf bu, anak laki-laki mu ini bukanya cuek dengan hal ini. Tapi mengingatnya hanya akan membuatku sakit. Memfikirkannya hanya membuat diriku lemah, Merasa tak berarti. Tak bisa berbuat apa-apa. 

Aku dan adik sudah terbiasa dengan keadaan ini. Bersikap bodo amat, itu yang kami lakukan. Lagi, bukan berarti kami tak sayang denganmu. Kami memikirkan bagaimana jalan keluar ini. Sudahi, aku lelah, adik lelah, apalagi ibu.
Hatimu kuat bagaikan baja. Bukan tak bisa hancur, namun sikapmu menunjukan bahwa dirimu baik-baik saja. Ibu pintar membungkusnya, walau aku tahu didalam retak, mungkin juga menuju kehancurannya. 

Akhirnya kita berdua sampai. Didesa nan sunyi dan damai ini, semoga dirimu bisa sejenak mengistirahatkan hati dan pikiranmu. Dan jikalau bisa, berdamailah dengan takdir ini. 



Comments

Popular Posts