Menyadari meneruskan rutinitas


Maskam (Masjid Kampus) UGM mungkin sudah tidak asing lagi bagi saya. Sedari kecil saya sudah diajak pergi ke sini bersama bapak untuk jumatan dan sesekali taraweh bersama adik dan ibu juga. Hanya sedikit memory yang saya ingat, namun rasanya memang tidak bisa bohong bahwa saya sudah mengenal masjid ini sejak lama. Seperti lorong memorable yang berada di bawah menara menuju Toilet pria. Di lorong tersebut dahulu ada para penjual menjajakan bermacam-macam produk seperti peralatan sholat, al quran - buku-buku, CD-VCD rekaman al quran, alat-alat dapur atau perkakas rumah, kurma, sesekali produk aneh seperti alat sulap. Tentu tidak ketinggalan makanan dan minuman. Namun sayang, sepertinya setelah pandemi lorong tersebut sudah tidak berfungsi seperti dahulu, terlebih jalan yang biasa untuk sunmor berpindah dan  para penjual juga sudah tidak ada akses untuk masuk ke area kampus. Masih ingat bagaimana suasananya lorong tersebut, saya beberapa kali penasaran apa yang dijual. Yang paling membekas tentu ingatan setelah pulang sekolah dijemput bapak dan mampir ke maskam untuk jumatan. Kala itu pedagang makanan masih banyak dan bisa masuk ke area parkiran barat maskam, bertemulah bapak dengan salah satu kerabat yang kebetulan bekerja di kampus ini. Saling menyapa dan sebenarnya seorang kerabat itu menawarkan untuk mencari makan siang bersama, namun saya terlalu capek hingga menolak ajakan tersebut haha.

Waktu ramadhan juga beberapa kali pergi tarawih disini. Dengan bapak pasti kesini untuk sholat tarawih pertama, karena seringkali masjid dirumah belum mengadakan sholat tarawih sedangkan kami lebih awal melaksanakan tarawih karena mengikuti Muhamadiyah. Selain itu kami juga mengincar siapa yang mengisi ceramah. Favorit saya dan bapak adalah ustadz Wijayanto, seorang dosen yang juga sebagai pendakwah dengan gaya kocyaknya. Kemudian yang saya ingat lagi yaitu prof Mahfud MD, dan beberapa kali ketua KPK kala itu seperti abraham samad. Ingatan lainnya yang lebih lama tidak jelas di core memori saya, tapi yang sudah saya bilang diatas, rasanya masih terasa suasana hangat itu. 

Setelah tumbuh remaja, saya tentu sudah berani untuk ke maskam sendiri. Entah untuk jumatan, untuk tarawih, atau untuk hadir di event yang diadakan di maskam. Ada satu cerita ketika waktu itu saya berulang tahun seperti kebiasaan dimana untuk merayakan hari kelahiran mengajak teman sekolah (SMK) untuk makan-makan. Saya juga melakukannya, mengajak mereka untuk makan yang kebetulan buka bersama tapi tempatnya di maskam UGM, bonceng RDK UGM haha. Tidak modal sama sekali, yang tetap hadir saat itu mungkin 3-4 orang wkwk. 

Satu hal yang saya sadari sekarang, sedari kecil saya sudah diajak untuk pergi ke maskam ini. Masjid Kampus terbesar di Indonesia, yang secara tidak langsung memberikan rasa kedekatan dalam dunia akademisi dan tentunya memberikan rasa "dekat" kepada suasana kampus/pendidikan. Sesuatu yang baru saya sadari sekarang dimana orang tua saya mengajak saya untuk merasakan suasana kampus sedari dini. Terlebih saya tahu bahwa banyak kawan saya yang belum pernah masuk ke area kampus besar itu padahal asli jogja tinggal di jogja dan tidak jauh rumahnya. Mungkin hanya kurang narasi dari orang tua saya saat itu untuk menumbuhkan semangat belajar dan jangan minderan untuk emnggapai cinta-citanya setinggi mungkin. Ya.. Alhamdulillah ala kulli hal

Semoga umur panjang dan sehat agar bisa melakukan rutinitas kembali dengan lengkap sekeluarga. Insyaallah rutinitas ini akan saya teruskan hingga nanti. Seperti tarawih pertama malam tadi. Satu sisi melakukan perjalanan spiritual akademis dan tentunya perjalanan kenangan baik yang terus di hidupkan. 


Comments

Popular Posts