Rayakan saja!

"Hari ulang tahun seperti hari biasanya, tidak dirayakan san", sontak saya mengerutkan dahi. 

Kalimat di atas saya dengar dari dua teman dekat saya. Bulan Mei kemarin banyak sekali teman-teman dekat saya yang berulang tahun. Hampir semua dari mereka tidak merayakan seperti pada umumnya. Seperti potong kue misalnya. Tentu Adam juga tidak, padahal di Bulan Mei dia yang membuka ulang tahun pada tanggal 2 Mei tapi sayang sekali duduk saja dia belum bisa, malah operasi yungalah. Doakan dia ya teman-teman semoga lekas membaik sehingga bisa dapat job motret di Choachella dan tentu di pernikahan saya. 

Balik lagi ke bahasan awal. Kalimat itu menggambarkan bahwa di usia mereka saat ini, merayakan ulang tahun bukan hal penting lagi. Apalagi itu bukan kebiasaan di keluarga mereka. Mungkin pikirnya, untuk apa merayakan, apa yang dirayakan di usia quarter life begini ditambah in this ecomy. Fase kehidupan yang darderdor dengan berbagai capaian hidup yang sedang diperjuangkan membuat hari kelahiran mereka tidak terlalu penting lagi untuk diperingati. 

Kalian tahu, saya sama dengan mereka. Merayakan hari kelahiran bukan budaya di keluarga saya, tiup lilin, potong kue, makan². Sekali untuk makan² di hari kelahiran saya di usia 17 tahun, ibu memasak makanan dirumah dan datanglah teman² dekat saya MTs kala itu. Pun juga pernah di hari ulang tahun saya beberapa tahun lalu, untuk pertama kalinya saya di hadiahi sebuah kue dan tiup lilin, kemudian potong kue. The one and only yang punya ide, mbapeg. Itu adalah kue saya pertama untuk merayakan ulang tahun di hidup saya. Iya tetap, hari kelahiran saya di peringati dan diingat, sekedar mengucapkan dan mendoakan yang saya rasa itu hal yang paling penting. Mengingat dan mendoakan. 

Lalu kenapa saya mengerutkan dahi ketika mendengar kalimat jawaban diatas itu, karena sebenarnya saya berharap ada jawaban lain dari teman-teman saya. Saya tahu bahwa merayakan tidak harus potong kue tiup lilin, atau dibuat ucapan di story sosial media (kalau ini saya). Perayaan ulang tahun di usia kita saat ini yang dituju sebenarnya bukan perayaan dengan meriah tapi perayaan untuk mensyukuri dengan sesederhana mungkin dan dengan cara kita masing-masing. 

"Sebenarnya, hari-hari spesial entah hari besar, hari ulang tahun adalah moment untuk bersua bercengkrama kembali". 

Di keluarga saya semenjak munculnya mba tata di Jogja, ulang tahun kami jadi sering kami peringati dengan potong kue dan makan-makan. Salah satu rezeki lewat mba Tata adalah keluarga kecil di Jogja jadi sering bercengkrama. Sudah tak terhitung nge-gril bareng itu, atau sekedar masak mie, iyo indomie rebus nggo kompor portable tambahi enoki. 

Contoh lagi kayak mbapeg kemarin, dia juga berulang tahun awal bulan Mei dan kami bersua untuk menyantap bakmi jawa seminggu kemudian. Tidak ada kue, tidak ada tiup lilin, hanya sekedar merayakan kecil-kecilan (yo ditraktir kok) dan tentu sebagai alasan agar kita bisa bersua dan update cerita kita masing-masing. 

Maka itulah yang saya lakukan beberapa tahun terakhir. Berkumpul keluarga sering dilakukan, apalagi jika ada salah satu dari keluarga kami yang berulang tahun. Moment itulah menjadi alasan agar kami bersua. Merayakan kebersamaan yang sudah terjalin. Mensyukuri nikmat yang diberikan. Loh hari spesial itu bisa buat alasan kita kembali menghubungi kawan-kawan lama kita loh. Seperti kata Cimeng, walaupun jarak memisahkan jauh, sudah sibuk masing-masing, maka.."yang penting jangan sampai lost contack". 

Berat memang hidup saat ini. Tapi jangan sampai melupakan hari-hari spesial kita, moment tersebut tidak akan terulang dengan sama lagi di tahun-tahun kedepan. Makes memories. Kayak tahun lalu, setelah uti meninggal, kemudian merayakan ulang tahun bersama bude Endang yang sebulan kemudian juga meninggal dunia :).

Begitu ya, masa depan belum pasti. Rayakan hari ini. 


Comments

Popular Posts