Adam Sadewa
TERAKHIR KALINYA
“tadi di kamar, Adam narik tanganku terus dikalungke neng pundak
e. Tangan e ngelus-ngelus lenganku”
Saya memberitahu adiku di teras yang kebetulan tadi setelah kami
belanja untuk keperluan KKN-nya saya memutuskan untuk mengunjungi Adam yang
baru saja pulang opname lagi dari Rumah Sakit. Kaget tentu melihat langsung kondisi badannya
yang habis. Tidak ada obrolan antara kami berdua, tidak ada canda tawa atau
gojlokan seperti sebelum-sebelumnya. Berbicara pun Adam tidak jelas walau suara
bindengnya terdengar cukup keras. Mimik wajahnya tegas, binar matanya seperti
ingin menyampaikan sesuatu, namun sayang saya tidak bisa mengerti. Kami hanya
saling menatap saja akhirnya. Yang terucap juga sebatas;
“semangat to”
“maem e sing akeh”
“Adam, sholat e ya”
Hanya 3 kalimat itu saja yang berulang kali saya katakan. Adam
hanya menatap sesekali. terlebih kalau namanya di panggil dengan intonasi
tegas, ia akan menoleh kemudian matanya menatap saya dan mimik wajahnya memberikan
kode “yo san”.
Tiba – tiba tangan saya disingkirkan karena lik e ternyata masuk
kamar, malu dia kawan haha, mungkin. Lalu saya ijin keluar dahulu ke teras, karena
adik saya tidak ikut masuk kamar Adam dan tentu saya harus mengambil nafas
sebentar. Butuh energi yang tidak sedikit agar tetap tegar di depannya. Sempat saya vc
dengan Anwar pun hanya bertahan 1 menit saja, yo pie hawane mung arep nangis wae.
Saya kira ia akan makan, karena sebelum saya masuk kamar seharusnya ia makan bersama pakdenya. Tapi pintanya ia ingin ngobrol dahulu dengan saya. Lalu ternyata Adam ingin ikut keluar ke teras. Dengan kursi roda ia menuju kedepan menyusul kami. Pakdenya terus berusaha dengan telaten untuk menyuapinya. Lima suapan, 2 suapan dikeluarkan kembali.
“teh…teh”, sambil menunjuk saya yang baru saja menengguk teh
pucuk.
Gara – gara teh pucuk yang saya minum, ia jadi ingin teh juga.
Baru saya ngeh selama ia sakit ini Adam sangat suka minum teh. Pernah sekali ia
ngirim pap sedang ngeteh saat masih di rumah sakit pasca operasi lalu dan
divalidasi bapaknya juga kalau Adam sangat menyukai teh.
“suster pernah diteriakin sama Adam karena mengambil teh di
sampingnya”. Tanbah bapaknya.
Ada moment lucu ketika nongkrong di teras, segelas teh hangat yang ia genggam akan di taruh saku kemejanya, haha kami pun tertawa bersama. Ternyata dia ketakutan kalau tehnya ini
diambil oleh kami.
MARI MUNDUR SEJENAK
Adam, saya bertemu karena satu sekolah, MTs Maguwo dulunya. Terlebih ketika kelas dua kami menjadi teman sekelas. Ada Anwar yang sejak kelas satu dengan saya, Ika yang ikut join di kelas kami, Faijah, Anindya Anindita, dan Azka?, sorry saya lupa. Sejak itulah interaksi kami mulai terbangun, ditambah ia juga mengikuti eskul futsal dan menyukai bola. Menonton PSS sesekali kami lakukan bersama-sama.
Banyak kenangan kami waktu MTs kala itu, apalagi kelas tiga kami masih satu kelas yang sama. Seperti pada umumnya anak-anak sekolahan, entah main bersama, tugas kelompok, dan masih banyak lagi. Kalau diingat, ada dua kali moment kami berlibur bersama menuju Wonosari. Salah satunya merayakan ulang tahunnya Ika, iya Ika Setyaningsih. Kelihatan dari raut wajahnya kalau dia asli Wonsosari preddd, jal delok en.
Dua kali itu kami mampir ke rumah Ika yang ada di Wonsa, kemudian setelah itu kami pergi menuju Pantai. Masih saya ingat, suasana di rumahnya Ika. Masih ingat juga bagaimana suasana ketika kami pergi ke Pantai. Bocah SMP pada masanya. Nek foto raine dielek ke, ben ketok sangar. Outfit kombor, dengan gaya tangan muntar muntir.
Lulus dari MTs Maguwo, kami satu sekolah kembali di SMK 3 Jogja. Adam jurusan AV dan saya berada di jurusan Bangunan. Pertemuan dengan Agung yang hamdalah masih sampai detik ini nyambung juga berawal dari situ. Dengan Agunglah saya berdua takziah waktu meninggalnya ibunya Adam pada tahun 2024, pun juga dengan Agunglah saya menengok pertama kali pasca operasi awal Mei lalu di RS Bedhesda.
Karena beda kelas, tidak banyak keseharian kami habiskan bersama. Hanya sesekali, tentunya kami main bersama. Seperti Naik Gunung ke Lawu dan Prau. Atau yang paling berkesan adalah tiga kali dalam dua Minggu kami berdua bolak-balik Jepara untuk nonton PSS kala ISC B 2016.
Bicara soal hobinya selain berpetualang, ia menyukai dunia fotografi. Sesekali kami melakukan hunting bersama, entah di Gunung Ireng, Pasar Kota Gede, atau membuat dokumenter saat Covid. Apalagi ketika kami sama-sama aktif memegang sosmed kelas kami masing-masing. Secara tidak sengaja kami mengobrol taste kami masing-masing. Barulah sejak dia masuk MMTC teori fotografi mulai dibicarakannya. Tentu saya yang awam selalau menanyakan tentang gaya foto ini apa, kenal tidak dengan fotografer ini siapa. Salah satu yang saya syukuri darinya, Hobinya menghasilkan uang baginya. Memang passion Adam ada disitu.
Sejak 2024 ketika Ibunya meninggal, agaknya hidupnya berubah. Mulailah dia berjarak dengan PSS,sebagai supporter. Bagaimanapun juga ibunya juga menyukai bola-PSS Sleman, ikut komunitas pula. Namun ada saja jalannya, ia kembali ke stadion namun bukan dari sisi suporter melainkan media. Adam berkali-kali berkesempatan untuk ikut mengabadikan moment di bawah sebagai media BCS.
Setelah sekian lamanya kami tidak nribun bersama, saya dan Adam pada tanggal 10 Januari berkesempatan lagi untuk menonton di tribun Timur. Saya lupa melawan siapa kala itu. Berbeda dengan Anwar yang secara tidak sengaja atau disengaja sering bertemu di stadion, lha Adam neng ngisor moto lha raketemu-temu. Namun akhir-akhir itu memang dia ingin menonton PSS saja. Katanya sudah mulai bisa untuk menonton kembali setelah ditinggal Ibunya, berbicara tentang PSS dan stadion jare marai eling Ibunya terus.
Ohya nyoto, wkwk. Ditengah kesibukan kami masing-masing sesekali kami menyempatkan waktu untuk bersua sembari sarapan soto. Pariwisoto banyak dilakukan di depan Stadion Maguwo. Favoritenya soto bagian kidul, nek aku jane lor cuma karena tempat e lebih enak kidul dan yo manutlah penting maem.
BARU SAJA DIMULAI
Banyak hal setahun kebelakang yang tentunya menjadi moment baru kami kembali. Seperti mulai sering dan hangat-hangatnya teman MTs berkumpul kembali. Kami sesekali memanfaatkan moment luang kami untuk bersua ngopi, update kabar masing-masing dan main aja. Edisi Syawalan yang telat juga kami lakukan di Kaktus dan itu menjadi pertemuan kami terakhir saat Adam masih sehat.
Mulai untuk menonton PSS kembali. Dia mulai bisa untuk datang ke stadion kembali, di tribun penonton. Apalagi PSS promosi liga. Sayangnya menjelang akhir, dia tumbang. Sudahlah ulang tahunya, PSS promosi, Final, Ya Alloh dilewatkannya. Dia juga mulai mengajak mendaki Gunung kembali walaupun untuk yang satu ini kami belum bisa realisasikan.
Adam Resign. Sejak awal tahun 2025, saya diberitahunya kalau ia ada keinginanya untuk keluar dari tempat kerjanya. Tentu saya memberikan pertimbangan namun juga apapun itu sebenarnya orang-orang terdekatnya akan mendukung setiap keputusannya. Lalu pertengahan tahun, obrolan resign itu kembali dikeluarkannya. Dan ternyata kali ini ia benar-benar resign. Freelancer foto-videographer sudah sering ia lalukan. Portofolionya di dunia event juga sudah nampak. Selagi masih muda, ia ingin explore sebanyak-banyaknya, inginnya.
PELUKAN TERAKHIR
Senen (29.06.26) siang saya mendadak diajak oleh Anwar dan Ncat untuk menengok Adam di rumah sakit. Awalnya dari Ika yang memberikan kabar kalau Sabtu (27.06.26) sebelumnya Adam nelfun Ika namun tidak terangkat. Ika mencoba miscall balik namun nampaknya Adam juga tidak aktif. Baru ngeh juga kalau Adam juga chat saya Jumat sebelumnya dengan ketikan typonya lalu chat terakhirnya kepada saya,
"kok lamaaaaaa"
Entah, saya berasumsi kalau Adam ingin di temui. Makanya dengan kondisi sebisanya ia mencoba menggapai siapa saja yang dapat ia hubungi. Miscall atau dengan ketikan typonya. Sayangnya waktu itu kami salah jadwal kunjungan, kami tidak bisa masuk menjenguk Adam waktu itu.
Kamis (02.06.26) berikutnya, sore hari kami mendapatkan kabar kalau Adam sudah pulang kerumah lik e di Piyungan. Malamnya alhamdulillah setelah dari Mirota bersama adik saya menuju ke Piyungan, menemuinya.
Dan ternyata itulah pertemuan kami yang terakhir kalinya. Saya sadar kemudian, tatapan matanya, mimik wajahnya yang ingin menyampaikan sesuatu dan tangan saya yang ia tarik menjadi pelukan terakhir kami.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Rest in Love
Adam Sadewa Adi Nugroho
01 Mei 2000 - 04 Juli 2026


















Comments
Post a Comment