Eyang Tohar
![]() |
| Eyang Tohar bersama Ibu |
Salah satu eyang uti saya meninggal dunia Jumat minggu lalu. Secara intensitas pertemuan memang kami cuma hitungan jari bertemu, dan hanya dua kali yang melekat di ingatan. Rumahnya di Banyumas, dia berasal dari jalur ibu saya (ibunya ibu). Di salah satu daerah di Banyumas itu hampir satu penduduknya masih ada ikatan darah, sebenarnya beberapa kali saya menyebut mudik ketika pergi ke Banyumas.
Sesekali merasakan pulang, sesekali merasakan seperti merantau.
Mbah uti saya tersebut bernama Eyang Tohar. Beliau cangtip, di usianya yang terbilang cukup senja, terlebih senyumnya. Ada satu cerita yang sangat kuat diingatan, bahwa eyang Tohar (kakung) adalah yang mengenalkan orang tua dari ibu saya. Istilahnya makjomblangi lah. Nah, dari situ walaupun kami jarang bersua, namun memang cerita kuat itulah yang menbuat ikatan kami terasa dekat. Bagaimana tidak, karena beliaulah yang sudah mengenalkan uti dan kakung yang kemudian lahirlah Ibu saya dan keluarganya sampai saya ada, haha.
Jika dihitung, simbah saya yang di Jogja juga tinggal satu. Yang di Banyumas sepertinya ini juga yang terakhir. Sayang lebaran kemarin saya tidak jadi pergi, yaaah yaaa.
Untuk mengenang Eyang Tohar. Yang ketika keluarga Jogja datang, ia akan berjalan menuju rumah eyang Sol tempat kami menginap untuk menyapa.
Husnul khatimah, aamiin.



Comments
Post a Comment