Sendiri bersama diri sendiri itu baik
Peralihan fase hidup masih terus berjalan. Segala kekhawatiran, ketakutan, sesekali datang bertamu. Karena saya belum bisa untuk merantau, maka itu juga yang menjadi ketakutan saya sekaligus. Bagi saya merantau itu fase kehidupan yang harus dilakukan dan dilalui. Dahulu saya merasa iri dengan teman – teman kuliah saya yang sudah bisa dan berani merantau untuk menuntut ilmu beberapa tahun di kota orang jauh dari kampung halaman. Mereka belajar mandiri, mengatur semua sendiri, mengatur pola makan, mengatur keuangan, memutuskan segala halnya sendirian. Tidak menutup kemungkinan fase terpuruk itu ada, fase prihatin itu ada. Entah keuangan sedang menipis, kesehatan yang memburuk, atau masalah lainnya yang datang dan harus dihadapi sendiri di perantauan. Semua itu adalah proses dalam mendewasakan diri sembari belajar akademik di kuliah, mereka juga langsung belajar kehidupan,
Lalu nasi yang sudah menjadi bubur saat ini coba saya
improvisasi. Mode merantau coba saya aplikasikan. Wkwk timeline hidup saya
begini amat yaaak. Lanjut, semua harus dicoba dan sebisa mungkin sendirian. Entah
urusan sederhana hingga urusan yang bisa dibilang berat. Apapun. Walaupun memang
karena masih hidup di kendang sendiri, ujian yang menerpa jauh berbeda kalau
benar – benar hidup merantau.
Contohnya melakukan kegiatan sendirian. Nonton sendiri saya
pernah, makan diluar sendiri apalagi itu sepele lah, kalian pernah pasti,
nonton bola sendiri ayok, jalan sendirian siapa takut. Dan yang terakhir saya ngonser
sendirian. Horeeey!
Namun contoh diatas adalah kegiatan yang bisa dibilang
hiburan ya, bukan sebagai experience untuk menuju fase mateng. Seperti hal –
hal yang menunjang kehidupan dewasa atau kehidupan setelah pernikahan nanti. Entah
itu hard skill, soft skill, seperti mengelola emosi, mengelola keuangan,
mengelola kesehatan rohani jasmani, dan semua hal yang berkaitan dengan
survivel. {cah lanang, opo – opo kudu iso!}
Setidaknya pelan – pelan mulai melepaskan ketergantungan
dengan orang lain. Menaikkan tingkat pengambilan keputusan. Harus selalu
menimbang – nimbang, meluaskan banyak sisi sebagai bahan pertimbangan. Mengatur
strategi dengan tidak lupa mengenali resiko yang mungkin terjadi. Yang penting
lagi berani untuk terus bergerak dan menghadapinya.
Comments
Post a Comment