lakukan


Dalam 3 pekan terakhir, gabut mungkin sering terjadi. Yang biasa keluar hingga larut pagi, atau yang biasa bermain dengan kawan-kawan diluar pasti merasakan hal itu. #dirumahaja , begitulah himbauan dan ajakan untuk semua agar bersama-sama memerangi wabah covid-19 ini. Namun bagaimanapun jua, sepertinya memang agak sulit Manahan diri agar tetap dirumah, terutama bagi kaum muda. Baiklah, awal Maret hingga akhir Maret bolehlah melihat perbedaan jalanan dari sebelum wabah yang menjadi lengang dari rutinitas, namun sepertinya di awal April ini jalanan aspal mulai ramai lagi. "Gampang bosan" begitulah tabiat manusia di negara ini. Lalu bagaimana dengan aku?, 

Haha, jujur saya mendukung gerakan #dirumahsaja, dari pada gak jelas mau keluar rumah, malah mudhorotnya besar ya mending dirumah saja. Namun beberapa kali aku pergi keluar rumah, aku yakinkan bahwa aku keluar rumah karena bukan hal yang sepele, namun memang penting. Ya penting menurutku, hehe. Salah satunya keluar rumah untuk ikut kegiatan dari kawan-kawan mahasiswa dalam gerakan MPC, Mahasiswa Peduli Corona. Yap, Alhamdulillah dalam kuliah online dan berhentinya organisasi kampus aku masih bisa mengisinya dengan mengikuti MPC ini. Ya bantu-bantu menjadi perkap, turut serta menyiapkan perlengkapan yang akan didonasikan seperti kaos tangan, masker, dan lain-lain. Survey ke toko-toko alat kesehatan, dan juga sekaligus mengamati kondisi yang ada, social distancing yang terpenting jika kita keluar rumah dan wajib pakai masker. 

Debut!, Diriku akhirnya bisa menyalurkan kegundahan-kegundahan yang selalu menghantuiku saat sunyi menghampiri. Tentang mereka yang tidak bisa menjalankan aksi #dirumahaja karena terdesak oleh pekerjaan, ya itu mending, nah kalau mereka yang tetap keluar karena mencari sesuap nasi bagi keluarga dirumah ?!. Ojol, kaki lima, gerobak keliling dan lainnya. Apalagi sekolah kampus diliburkan semua, ditambah gang-gang akses masuk kedalam suatu wilayah ditutup. Bayangke! 

Baik, aku bukan membicarakan salah benarnya. Semua mempunyai alasan tersendiri untuk sikapnya. Mereka yang menutup akses jalan tentu juga takut ada orang lain membawa virus ini masuk dan itu benar jika kebutuhan orang-orang didalam wilayah tersebut terjamin. Dan apalagi mereka yang tetap keluar rumah untuk mencari sesuap nasi, tentu itu juga benar walau bahaya mengintai mereka dan bahkan mereka bisa membawa virus bagi sanak saudara dirumah. Namun bagaimana lagi, hanya itu pilihan mereka. Jika dirumah maka tidak ada yang bisa untuk membeli makan dan jika keluar, ancaman virus mengintai ditambah kenyataan hasil yang didapat sepi. Ya sulit bagi mereka hidup di saat-saat seperti ini. 

Alhamdulillah, kita terkenal dengan bangsa yang saling tolong menolong dalam setiap kesulitan saudara lainnya. Banyak sekali di sosial media ajakan untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Ada ajakan berdonasi, ajakan untuk saling memberi, dan juga ajakan untuk turun langsung bagi mereka yang memungkinkan untuk terjun di masyarakat. MPC, bersyukur Himpunan saya mengikuti gerakan ini. Walau hanya tenaga yang bisa aku berikan. Itung-itung dari pada gabut dirumah dan nekad keluar mending sekalian keluar yang manfaat. 

Semoga banyak yang tergugah untuk ikut berkontribusi dalam gerakan ini, peduli dengan sesama, sekecil apapun itu, DO IT!

Comments

Popular Posts